background img

The New Stuff

Meninggal, Gadis Berwajah Nenek-Nenek Berubah

KISARAN – Ita Susilawati yang mengalami penuaan dini telah berpulang, Minggu 28 Februari siang. Kemarin, menjelang dimakamkan,wajahnya berubah total seperti sebelum dia menderita penyakit misterius ini.

Guratan kecantikan semasa hidup terlihat jelas saat jenazah perempuan yang tutup usia pada umur 19 tahun ini dimandikan.Wajahnya yang dulu menua dengan alis dan kelopak mata turun hingga ke pipi, terlihat kembali seperti sedia kala. Yang lebih mengherankan, wajahnya tampak kembali muda. Lekuk-lekuk wajahnya yang sempat rusak kembali normal hampir sempurna. Kejadian ini sempat menjadi perhatian ratusan pelayat.

“Kami sempat terkejut. wajahnya kembali sempurna.Bahkan, kelopak matanya yang jatuh hampir tidak terlihat lagi,” ungkap Halimah (38), aktivis Kajian Informasi Perempuan Asahan (KIPAS) Asahan, yang ikut melaksanakan fardu kipayah almarhumah.

Suasana duka juga terasa kuat ketika jenazah perempuan malang ini disemayamkan di rumah orangtuanya di Dusun IX,Kampung Sido Keno, Desa Suka Damai Barat, Asahan, hingga dimakamkan. Ayah dan ibunya, Durrahman, 50, dan Ramlia (44), bahkan menangis di sisi jenazah. Ramlia yang terlihat sangat terpukul sempat meraung saat jenazah putri satu-satunya itu diberangkatkan ke Masjid Nurul Iman, tak jauh dari rumahnya untuk disalatkan.

“Ita jangan tinggalkan Mamak,” ujarnya. Bagi Ramlia, kepergian Ita menghadap Sang Khalik membawa duka dan kenangan yang sangat dalam. Dari tiga anaknya, semasa hidup, Ita bukan saja anak perempuan satu-satunya, juga menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Ita dikenal perempuan cekatan untuk mencari uang membantu kebutuhan keluarga. Segala macam usaha dijalankan demi membantu orangtua. Bahkan terakhir, walau dalam kondisi sakit, Ita masih tetap berusaha mencari nafkah. Di rumahnya, dengan kondisi fisiknya yang mendadak tua renta seperti nenek- nenek berusia 70-an tahun itu, dia tetap berusaha dengan membuka rental PlayStation.

Ramlia menuturkan, semasa hidup, Ita tidak pernah bersikap manja meskipun sebagai anak perempuan satu-satunya dalam keluarga. Di mata Durrahman maupun Ramlia, Ita merupakan anak perempuan yang tangguh.

“Saya memang berbakat jadi pedagang, karena itu saya tak mau sekolah lagi, hanya sampai kelas 6 SD, itu pun tidak tamat,” ujar almarhumah dalam satu wawancara kepada harian Seputar Indonesia (SI) semasa hidupnya beberapa waktu lalu. Derita perempuan kelahiran 1991 semasa hidup menaruh simpati warga.

Sejak menderita penyakit misterius,dia tak pernah didampingi suaminya, Hendra Effendy, yang hingga kini tidak diketahui keberadaannya.

Maka itu, ratusan warga memenuhi rumah duka untuk melepas jenazah ke peristirahatan terakhir, termasuk sejumlah pejabat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Asahan dan anggota DPRD Asahan. Wakil Ketua DPRD Asahan Dahrun Hutagaol turut menyampaikan rasa berduka atas berpulangnya Ita.

“Saya kemari untuk menyampaikan ungkapan belasungkawa dan rasa keprihatinan terhadap nasib yang menimpa almarhumah,” ungkapnya. Memang politikus dari Partai Amanat Nasional (PAN) ini tak sempat menyampaikan ucapan belasungkawa secara resmi dalam acara prosesi pemakaman karena datang terlambat.

Dahron tiba di rumah duka sesaat menjelang prosesi pemakaman selesai dilaksanakan. Hal serupa disampaikan Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Kecamatan Pulau Bandring Ali Mughofar, yang datang mewakili Pemkab Asahan. Seperti diberitakan, Ita meninggal tanpa diketahui penyakit yang mendera dan mengubah jalan hidupnya selama dua tahun terakhir. Selama delapan hari, dia menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) H Abdul Manan Simatupang. Serangkaian pemeriksaan pun dilakukan tim dokter yang berasal dari berbagai bidang kesehatan.

Dokter ahli paru menyimpulkan diagnosis sementara bahwa Ita mengalami radang paru (pneumonia). Dokter ahli kandungan menilai menopause prekoks (menopause dini) dan dokter ahli bedah menyatakan menderita hernia. Sementara itu, ahli kulit dan kelamin menilai Ita mengalami pruritus (gatal pada kulit) serta divonis mengalami kelainan hormon oleh dokter ahli penyakit dalam.

Keluarga Minta Kasus Hukum Tetap Dilanjutkan
Sepeninggal Ita, keluarganya tetap mendorong agar kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan suaminya, Hendra Effendy, tetap dituntaskan. Keluarga telah memberikan kuasa kepada LBH Medan (Pos Asahan-Tanjungbalai). Saat ini, kuasa hukum tengah mempelajari apakah sepeninggal Ita, kasus itu masih bisa diproses atau tidak. Koordinator LBH Medan (Pos Asahan-Tanjungbalai) Imam Syahtria menyatakan, somasi terhadap Ita memang belum sempat dikirim, masih dalam proses.

Keterlambatan pengiriman somasi karena pihaknya tersita dalam mengurusi pelayanan medis bagi Ita dan memelopori kegiatan Gerakan Seribu Cinta Untuk Ita (Gebu Cinta untuk Ita) bersama PWI Reformasi Asahan dan KIPAS.
(edy gunawan hasby/Koran SI/fit)

Sumber: okezone.com foto SI

0 komentar:

Poskan Komentar

Ramaikan Blog Ini Dengan Komentar-Komentar Anda

Bebas, Sopan, Ataktif, Kritik Juga Boleh

Popular Posts